Rabu, 16 Oktober 2013

K A K I

Hendry Wicaksono, seorang pria paruhbaya yang kini hampir menginjak usia 45 tahun. Ia tengah tersenyum menatap Resti Anggita, buah hatinya yang sedang sibuk melepas sepatu di depan pintu rumah. Sepeninggal ibunya lima tahun silam, Hendry hanya tinggal berdua dengan Resti, satu-satunya putri yang amat disayanginya.
“Gimana tadi di Sekolah?? Ada pelajaran yang susah nggak ?” Tanya Hendry seraya mengusap lembut kepala anaknya.
Resti menoleh dan tersenyum menatap wajah sendu ayahnya “Tadi ibu guru bilang kalo minggu depan Resti sudah mulai Ulangan Semester yah.”
“Kalo begitu Resti harus belajar lebih giat mulai sekarang, supaya nanti kamu bisa dapat peringkat pertama.”
Resti mendekat, Di pegangnya kursi roda yang sedang diduduki ayahnya “Iya ayah, Mulai sekarang Resti mau belajar lebih sungguh-sungguh, Resti pengen buat ayah bangga”
Hendry tersenyum lebar, dipeluknya putri semata wayangnya itu “Ayah bahagia sekali bisa memiliki putri seperti Resti.”
“Ayah sudah makan?” Tanya Resti sembari berjalan ke dapur, ia berjalan dengan penuh air mata berlinang di pipi mungilnya.
“Ayah belum makan, Dari tadi ayah menunggu Resti pulang.” Jawab sang ayah dari ruang tamu.
“Yasudah, Resti buatkan tempe goreng yaa.” Jawab Resti sembari mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
Sesaat kemudian, Resti keluar dari dapur lalu berjalan ke ruang tamu sambil membawa sepiring tempe goreng dan sebakul nasi hangat. Sepanjang sore kedua ayah dan anak itu duduk di ruang tamu dan menyantap lahap makanan yang telah dibuat Resti.
***

Resti merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur kumuhnya, disekeliling kamarnya nampak cat dinding yang sudah mulai berwarna kusam dan mengelupas termakan usia. Resti menatap atap kamarnya, dirasakanya hangat cahaya lampu remang-remang yang terpasang di langit-langit kamarnya. Sejenak ia mulai memejamkan mata, serangkaian peristiwa yang telah terjadi di sekolah tadi siang kembali membayanginya. Ia masih teringat akan kata-kata cemoohan teman-temannya yang tak pernah berhenti menghinanya.
 “Ayah macam apa yang kerjanya tiap hari Cuma duduk di kursi roda!!” Ejek Wina, teman sebangku Resti, yang kemudian selang beberapa saat terdengar suara ricuh tawa teman-teman sekelasnya. Mereka semua menertawakan Resti.
“Diam!!!!” Teriak Resti, ia berdiri dan menatap semua teman-teman yang mengejeknya. Perlahan pandangannya mulai kabur, air matanya mulai berlinang.
“Woy diem woy!! Si anak yang ayahnya lumpuh lagi ngomong nih hahahhaaha” Sahut Deni salah satu teman sekelas Resti, ia berdiri sambil mengangkat satu kakinya, dan menirukan cara berjalan ayahnya Resti.  Sesaat kemudian, terdengar tawa ricuh seluruh anak.
Resti hanya bisa terdiam, ia pun segera berlari ke luar kelas. Air matanya sudah tak tertahan lagi, namun saat ia hendak berjalan menuju pintu, tak sengaja ia bertabrakan dengan gurunya.
“Resti , kamu mau kemana?” Tanya guru itu dengan wajah penuh kebingungan menatap Resti yang sedang menangis.
“Sa..saya mau ke toilet bu.” Jawab Resti sambil sesenggukkan
“Kamu kenapa menangis?? Nanti setelah dari toilet, temui Ibu di kantor ya. Ada hal penting yang harus Ibu sampaikan.”
“Iya bu, Saya permisi.”
Resti berjalan menuju toilet, langkahnya gontai. Hatinya sangat terluka, terlebih lagi saat perlahan bayangan wajah ayahnya muncul dipikirannya. Ia tak pernah mengira jika kehidupannya akan berubah drastis seperti ini. Tak pernah terpikirkan oleh Resti jika ia akan kehilangan sosok Ibu yang amat dicintainya. Lima tahun silam, saat malapetaka itu terjadi, Ibunya pergi meninggalkan Resti dan Ayahnya.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam, sini masuk Res.” Jawab Guru Resti
Resti berjalan menuju kursi, lalu ia duduk berhadapaan dengan gurunya. “Ada apa bu? Kenapa Ibu memanggil saya?” Tanya Resti dengan wajah polos.
“Begini Res, sebentar lagi kan Ujian Semester. Semua siswa diwajibkan untuk melunasi SPP. Kamu tau kan kalau SPP mu sudah nunggak dua bulan” Jawab Ibu guru dengan nada penuh hati-hati, ia tak tega mengatakan hal ini kepada Resti.
“Iya, saya tau bu. InsyaAllah saya akan segera melunasinya, mohon beri waktu tambahan agar saya bisa mencari uang untuk melunasinya.”
“Baiklah Ibu mengerti, Seminggu lagi harus sudah lunas ya. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas.”
“Baik bu, Saya permisi dulu.”
***

““ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR.. ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR..ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH.. ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH”. Suara adzan Maghrib membuyarkan lamunan Resti. Tak terasa sudah hampir setengah jam ia melamun sambil menatap langit-langit atap kamarnya.
“Resti, ayo shalat maghrib dulu!” Panggil ayahnya dari luar kamar
“Iya ayah, sebentar” Resti segera bangun, lalu mengambil air wudhu.
Tak lama kemudian kedua anak dan ayah itu melaksanakan shalat maghrib berjama’ah.

***
Keesokan harinya, saat Resti pulang dari sekolah, di depan pintu rumahnya ia melihat sepasang sepatu kulit mengkilap berwarna coklat. Resti merasa sangat familiar dengan sepatu kulit itu. Setelah melepas sepatunya, Resti pun berjalan menuju ruang tamu, ia ingin memastikan siapa tamu yang sedang berada dirumahnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja ia mendengar perbincangan ayahnya dengan sosok pria yang wajahnya sangat ia kenali.
“Kalau begitu, surat ini aku bawa dulu. Nanti kalau kau sudah punya uang, silahkan tebus kembali surat tanah ini.” Kata Tomi, Sosok Pria Paruhbaya yang sudah lama menjadi teman Hendry sejak mereka SMP.
“Iya, aku mengerti. Terimakasih banyak ya. Maaf sudah merepotkanmu Tom.”
“Tak masalah Hen, Toh kita sudah lama berteman. Apa salahnya jika aku membantumu. Yasudah kalau begitu aku pergi dulu” Jawab Tomi yang kemudian berdiri dan hendak berjabat tangan dengan kawan lamanya itu.
Mendengar perbincangan itu, Resti sangat syok. Ia kembali memakai sepatunya dan berlari meninggalkan rumah gubuknya itu. Resti berlari sangat kencang, air matanya lagi-lagi tertumpah tak terkendali membasahi pipinya. Langkah kakinya terus berjalan menelusuri trotoan jalan raya. Ia benar-benar tak sanggup membendung luka hati yang saat ini tengah dideritanya. Dalam hati ia berkata, “Ya Allah.. Kenapa harus ayah yang kau buat menderita.. Kenapa harus dia?? Resti tak pernah menyangka jika ayah akan kehilangan kakinya. Dulu ayah sangat gagah, dan Ibu sangat mencintai Ayah. Tapi kenapa, hanya karena Ayah lumpuh Ibu pergi meninggalkan ayah.. Jika saja peristiwa itu tak pernah terjadi!! Mungkin saat ini Resti punya keluarga yang utuh. Lalu sekarang Resti harus bagaimana ya Allah??”
Di pinggir jalan raya, Resti duduk tersungkur. Ia kembali mengingat peristiwa lima tahun yang lalu. Sebuah peristiwa malapetaka yang kini membuat Ayah yang amat dicintainya kehilangan kakinya, Peristiwa yang membuatnya ditinggalkan satu-satunya sosok Ibu yang sangat ia Sayangi. Lima tahun yang lalu tepat saat Resti  merayakan ulang tahun perkawinan Ayah dan Ibunya, mendadak atasan ayahnya menelpon dan memberitahukan bahwa ayahnya harus segera datang ke lokasi kebakaran. Ditengah-tengah hari bahagia itu, ayahnya pamit untuk pergi bekerja. Sudah hampir sepuluh tahun Ayah Resti bekerja sebagai Petugas Pemadam Kebakaran. Namun sesaat setelah kepergian ayahnya, Ibu Resti menerima telepon dari rumah sakit. Pihak Rumah Sakit mengabarkan bahwa, Ayah Resti berada di ruang ICU dan keadaannya kritis. Ternyata kecelakaan itu terjadi, ketika ayahnya sedang menyelamatkan anak kecil yang terjebak kebakaran di sebuah hotel, tiba-tiba sebuah kayu terjatuh dari atap kamar hotel dan kayu itu menimpa kaki ayahnya. Sang ayah memang dapat terselamatkan, namun sayang karna tertimpa kayu maka salah satu kakinya harus diamputansi. Akhirnya Hendry kehilangan kaki kirinya. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Istri Hendry yang juga merupakan Ibunya Resti pergi dari rumah. Ibunya tak tahan dengan ejekan para tetangga yang selalu mengolok-olok kaki ayahnya Resti. Semenjak saat itu Resti dan ayahnya hanya tinggal berdua disebuah rumah gubuk kecil peninggalan kakek Resti di Desanya. Rumah mewah yang dulu mereka tinggali sudah terjual, dan uangnya untuk pengobatan ayah Resti.
 “ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR.. ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR..ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH.. ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH” Lagi lagi suara adzan maghrib membuyarkan lamunan Resti. Ia langsung berdiri dan segera pulang ke rumah, ia takut jika ayahnya menghawatirkannya.
***

Ketika hampir sampai, ia terkejut karena melihat ayahnya yang duduk di kursi roda sudah berada di depan pintu
“Resti, kamu dari mana saja nak? Maghrib begini baru pulang?” Tanya ayahnya, dengan wajah penuh khawatir.
Resti menunduk “Resti habis mengerjakan tugas kelompok di rumah teman yah.”
“Yasudah ayo masuk, di luar dingin nanti kamu bisa masuk angin. Ayah buatkan teh hangat ya untuk Resti.” Kata Hendry sambil mengusap lembut kepala anaknya.
“Tidak usah yah, Resti sedang tidak haus. Ayah sudah makan?”
Tersenyum sejenak “Belum, ayah nunggu Resti.  Ayo kita makan bersama”
Mendengar jawaban ayahnya, Resti sangat sedih. Air matanya hampir tumpah, namun ia berhasil untuk menahannya.
***

Saat mereka makan malam, Ayahnya menyodorkan amplop yang berisi uang ratusan ribu.
“Ini uang SPP mu yang sudah nunggak dua bulan, besok langsung dibayarkan ya”
Resti sangat terkejut mendengar perkataan ayahnya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya , Bagaimana bisa ayahnya tau kalau SPPnya nunggak dua bulan.
Dengan penuh hati-hati Resti menjawab “Ini uang dari om Tomi ya? Aa..Ayah menjaminkan Rumah kita supaya bisa melunasi SPP Resti ya?”
Hendri terdiam sesaat. Ia tak tau harus berkata apa pada putrinya.
“Iyaa kan yah?? Jawab Resti yah? Jangan berbohong pada Resti. Resti tau, tadi sore saat Resti pulang sekolah, tak sengaja Resti mendengar perbincangan ayah dengan om Tomi” Kata Resti terbata-bata.
Hendry mendekat dan langsung memeluk anaknya “Maafkan Ayah Res, Hanya ini satu-satunya yang bisa ayah lakukan agar kamu bisa tetap sekolah”
Resti menagis kencang, ia tersungkur tak berdaya di pelukan ayahnya.
***

Seminggu telah berlalu, Resti melewati Ujian Semesternya dengan baik. Berkat surat tanah yang digadaikan ayahnya, ia diijinkan untuk mengikuti Ujian. Hingga kemudian,  tiba saatnya hari yang sangat ditunggu-tunggu tiba.
“Peringkat pertama tahun ini diraih oleh Resti Anggita, kelas X 1 IPA”
Resti Terkejut, mendengar Kepala Sekolah menyebutkan namanya. Ia segera berjalan menuju keatas panggung untuk memberi kata sambutan.
“Assalamulaikum. Pertama saya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Allah SWT. Saya benar-benar tidak pernah menyangka kalau saya bisa peringkat pertama. Saya sangat berterimakasih kepada Ayah saya, yang selama ini tak pernah berhenti mendukung dan bahkan banyak berkorban agar saya tetap bisa bersekolah. Terimakasih ayah, Resti sangat mencintai ayah, Resti tak peduli meskipun orang-orang selalu berkata bahwa ayah lumpuh. Bagi Resti, ayah itu seorang pahlawan. Ayah rela mengorbankan kakinya demi menyelamatkan seorang anak kecil yang terjebak di hotel lima tahun yang lalu. Resti bangga samaAyah.
Mendengar ucapan anaknya diatas panggung, Hendry tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia melihat putrinya berdiri anggun diatas panggung sana.
Tak lama kemudian semua teman-teman Resti bertepuk tangan, mereka bangga memiliki teman seperti Resti. Mereka juga menyesal karena selama ini telah menghina Resti dan Ayahnya.
***


Setibanya di Rumah.
“Tok..Tok.Tok..” Suara pintu diketuk.
Resti berjalan menuju sumber suara “Biar Resti yang buka yah”
Betapa terkejutnya ketika Resti melihat sosok Lelaki Paruhbaya yang berdiri di depan pintu. Lelaki itu adalah Tomi, namun kali ini Tomi datang dengan seorang anak perempuan yang memakai seragam putih abu-abu. Anak perempuan itu sangat familiar bagi Resti. Sosok perempuan itu adalah Wina, teman sebangku Resti yang sering mengolok-olok ayahnya.
“Wi..Winaa..”
Wina pun tersenyum lebar “Selamat ya Resti, kamu memang pantas mendapat peringkat pertama. Emm dan aku juga minta maaf ya, karena selama ini aku selalu menyakiti hatimu.”
Resti tersenyum “Iya  gak papa Win, Aku tau kamu sebenernya baik kok. Makasih yaa”
Dari ruang tamu terdengar suara Hendry “Siapa Res yang datang?”
Belum sempat Resti menjawab, Tomi dan Wina langsung masuk menuju ruang tamu.
Hendry ikut terkejut melihat kedatangan Tomi dan anaknya, ia berpikir bahwa Tomi datang untuk menagih hutang.
”Tomi, ada apa kau datang kemari? Ayo silahkan duduk. Res buatkan minum buat Om Tomi dan Wina” Kata Hendry tersenyum lebar menatap Tomi dan Wina
“Iya yah” Jawab Resti singkat, ia pun berjalan ke dapur.
“Begini, kedatanganku kemari untuk memberikan ini kepadamu” Ucap Tomi memulai perbincangan, ia menyerahkan sebuah map coklat yang didalamnya berisi surat tanah milik Hendry.
Kaget dan Terkejut “Ini untukku? Bukankah aku belum melunasi hutang-hutangku?”
“Kau salah Hen, Akulah yang belum melunasi hutang-hutangku” Jawab Tomi sambil tersenyum
Hendry bingung “Hutang? Hutang apa Tom? Seingatku, kau tak pernah satu kalipun berhutang padaku.”
“Aku berhutang nyawa padamu Hen”
“Nyawa?” Jawab Hendry dengan mimik muka semakin bingung
“Iya nyawa. Kau tak ingat, lima tahun yang lalu kau telah menyelamatkan Wina dari peristiwa kebakaran di Hotel itu. Kalau bukan karena kau, aku pasti sudah kehilangan Putriku.”
“Om Hendry, Wina sangat berterimakasih. Berkat pengorbanan Om, Wina masih bisa hidup sampai sekarang” Sahut Wina sambil menatap Hendry, ia tersenyum tulus.
“Aku melakukan itu karena itu memang pekerjaanku, sudah kewajiban seorang petugas pemadam kebakaran untuk menyelamatkan mereka yang membutuhkan pertolongan. Jadi jangan jadikan ini sebagai hutang yang harus dilunasi. Aku ikhlas menyelamatkan anakmu.”
“Kalau begitu, ijinkan aku membiayai sekolah Resti hingga nantinya ia lulus. Dan tolong terima surat tanah ini. Ini milikmu Hen”
“Maaf, aku tidak bisa menerima kebaikanmu Tom. Aku sudah terlalu sering menyusahkanmu.”
“Jangan begitu Hen, pikirkan masa depan Resti. Aku tidak pernah merasa kau menyusahkanku. Justru aku senang jika kau meminta pertolonganku, itu berarti kau menganggapku teman.”
“Iya Om, Mohon diterima bantuan dari ayah. Tidak baik menolak rezeki. Resti juga pasti akan senang menerimanya. Ucap Wina dengan wajah polosnya
“Baiklah, aku akan menerimanya. Terimakasih banyak Tom, aku dan Resti tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.”
Beberapa saat kemudian Resti datang membawa minuman
“Ini minumnya. Silahkan diminum, Om,Wina” Kata Resti sembari menyajikan minuman di meja
Tomi mendekat ke Resti, ia menyerahkan amplop yang berisi uang “Res, tolong kamu terima ini untuk perawatan kaki ayahmu.”
Mendengar hal itu Resti langsung mengeluarkan air mata, namun kali ini bukan air mata kesedihan, ia benar-benar bahagia. Resti langsung memeluk ayahnya, yang duduk terpaku di kursi roda.
“Ayah, tolong terima bantuan dari Om Tomi. Resti ingin melihat ayah bisa berjalan lagi.”
Hendry memeluk Resti, ia tersenyum manatap Tomi dan Wina “Terimakasih Tom, aku tak tau harus berkata apa lagi.”
Resti bersujud “Ya Allah, terimakasih. Engkau telah menjawab doaku”

***

15 komentar:

  1. alhamdulillah doanya terjawab ya kak.

    BalasHapus
  2. wahhh... keren2.... salam konservasi ...... hehehhe

    BalasHapus
  3. yang baik selalu akan mendapat balasan yang baik juga.

    BalasHapus
  4. sangat menyentuh :')
    Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya..
    Jadi, jangan berhanti bersabar..
    semua akan indah pada waktunya :))

    BalasHapus
  5. Keerrreeennnn..... Ajarin dong bkin crita kyak gitu. Sumpah keren.
    Mnrut gue, ksimpulan critanya. Sgla sesuatu serahkan sma yg di atas, dan kita sbgai mnusia berjuang semampunya. Allah maha pendengar kok, psti akan mengabulkan doa hamba"nya. Mnrut gue gtu

    BalasHapus
  6. Keren banget ceritanya. Sumpah, gue sampe merinding. Semoga yang lain membacanya sampe abis ya. Biar dapet feelnya. Sayang banget, cerita bagus gini dilewatin. Hehehe. Ajarin juga dong bikin cerita kayak gini. Menyentuh banget.

    BalasHapus
  7. dududu.. keren banget ceritanyaa!! seneng juga akhirnya happy ending gitu. :)

    BalasHapus
  8. ceritanya bagus banget, menyentuh kalbu, itu ajah si gue nggak terlalu faham soal dunia per-cerpen-an hehe over all asik ajah bacanya

    nama tokohnya ada ynag namanya resti anggita, si gita mana gita, git ada yang nyamain nama lo tuh. haha sodaraan kali ya

    BalasHapus
  9. entah kenapa pas baca ini aku jadi inget cerita2 di indosiar yg islami2 gitu...sma ceritanya sinetron yg nikita willy itu... *abaikan

    btw bagus ceritanya...menyentuh,...tp spasi dan tata tulisannya dirapiin lg dong..susah bacanya..terlalu rapet..ehehe

    BalasHapus
  10. Om tomi luar biasa. Jarang ada orang yg kayak gt. Ngefans gue sama om tomi

    BalasHapus
  11. keren ceritanya detail dan asik tapi ceritanya putus-putus dan spasinya rapet gitu jadi bikin kurang khusuk bacanya hehe :D

    BalasHapus
  12. kebaikan selalu menyisakan kebaikan..
    in ahsantum, ahsantum lianfusikum.. bila kita berbuat baik kepada oranglain, sebenarnya kita juga sedang berbuat baik kepada diri sendiri..

    BalasHapus
  13. agak gimana gitu ya, soalnya jaman sekarang itu jarang banget ada yang mengolok-olok temannya gara-gara ayahnya cacat.. agak enggak realistis._. tapi sisanya keren, ceritanya menyentuh

    BalasHapus
  14. waah baca cerita ini sampai akhir bener2 menyentuh bangeet ya :'))
    segala kebaikan selalu menui kabaikan, dan segala sesuatu akan indah pada saatnya,,ceritanyaa baguus bangeet :))

    salam EPICENTRUM
    mampir ya kakaak :))

    BalasHapus