Minggu, 20 Juli 2014

E N T A H

D.I.A. . . . .

DIA datang lagi!!

Mendatangkan kembali segala luka yang telah terpendam.
Menguakkan kembali sejuta resah dan amarah karena hamparan sesal.
Dengan mudahnya dia menunjukkan raut wajah itu, menampakkan kembali senyum yang membuat hariku kian semu.

Tak sadarkah dia ??? Betapa sulitnya bagiku selama ini menahan segala rasa sakit karenanya.

Tak pernahkah dia berpikir betapa sulitnya memendam segala rindu yang setiap saat semakin menyiksa.

Setelah sekian lama ku berusaha mengubur semua harapan dan kenangan, tiba-tiba dia muncul lagi tanpa pernah peduli apa yang kurasakan selama ini.
Tak mudah bagiku untuk memudarkan segala luka yang telah dia buat, dan dengan mudahnya dia menebar kembali segala kenangan yang telah lama ku asingkan!

Jika saja Tuhan memberikanku kesempatan untuk memilih jalan takdirku, aku akan memilih tidak pernah mengenalmu dan sama sekali tak pernah tau semua hal tentangmu. Daripada aku pernah mengenalmu dan pada akhirnya aku harus berpura-pura tak mengenalmu juga tak peduli tentangmu.


JUST SONG

hai selamat bertemu lagi
aku sudah lama menghindarimu
sialku lah kau ada di sini
sungguh tak mudah bagiku
rasanya tak ingin bernafas lagi
tegak berdiri di depanmu kini
sakitnya menusuki jantung ini
melawan cinta yang ada di hati

dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
'pabila kau muncul terus begini
tanpa pernah kita bisa bersama
pergilah, menghilang sajalah lagi

bye selamat berpisah lagi
meski masih ingin memandangimu
lebih baik kau tiada di sini
sungguh tak mudah bagiku
menghentikan segala khayalan gila
jika kau ada dan ku cuma bisa
meradang menjadi yang di sisimu
membenci nasibku yang tak berubah

dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
'pabila kau muncul terus begini
tanpa pernah kita bisa bersama
pergilah, menghilang sajalah lagi

berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
berkali-kali ku telah berjanji menyerah

dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
'pabila kau muncul terus begini
tanpa pernah kita bisa bersama
pergilah mengilang sajalaaaaaah
lagiiiiiiiiii. . . .

#Maudy Ayunda : TAHU DIRI

Sabtu, 17 Mei 2014

CHILDHOOD MEMORIES WITH YOU (K AM U)

CHILDHOOD MEMORIES WITH YOU

Tinggi-tinggian
Hari itu adalah saat pertama aku mengenalmu, tepatnya didepan rumahmu. Saat itu aku berusia 6 tahun. Ibu menyuruhku untuk membeli sesuatu di toko milik ibumu, dan kebetulan kamu disuruh ibumu untuk memberi kembalian uang kepadaku. Dan karena waktu itu aku lebih tinggi darimu, kamu menjijintkan kedua kakimu saat memberikan uang kembalian, dengan wajah polos lalu kamu berteriak “Aku lebih tinggi dari kamu!”, mendengar itu aku hanya tertawa. Karena aku tertawa kamu marah, lalu kamu berteriak “Pokoknya, suatu saat aku bakalan lebih tinggi dari kamu!”. Semenjak saat itu setiap kali aku bertemu denganmu, kamu selalu berteriak mengatakan hal itu dan kamu selalu menjijitkan kakimu agar terlihat sama tingginya denganku. Dan kini, kamu telah mewujudkan kata-katamu waktu itu, sekarang kamu jauuh lebih tinggi dariku.



Sebuah Kebetulan
Mungkin saat itu aku berusia 7 tahun. Saat itu aku sedang kejar-kejaran dengan kakakku, aku berlari mengejar kakakku. Kakakku berlari keluar rumah, dan saat aku keluar rumah aku sudah kehilangan jejak kakakku. Dari kejauhan aku melihatmu, wajah dengan penuh kebingungan lalu aku bertanya padamu ”Kamu liat kakakku nggak?” dan kamu menjawab “enggak”. Lalu aku bertanya padamu “Kamu ngapain disini?” dan kamu menjawab “aku lagi nyari kakakku. Kamu liat kakakku nggak? Tadi dia lari ke arah sini”. Tak lama kemudian aku melihat kakaknya berlari menghampirinya dan mengajaknya pulang. Aku berdiri terdiam melihatnya berjalan menuju rumahnya, dan beberapa saat kemudian kakakku mencul lalu mengajakku pulang kerumah.



Ngaji
Ketika berusia 7 tahun ibu mendaftarkanku untuk ikut TPQ di Masjid yang lumayan dekat dari rumahku. Selang beberapa minggu kamu juga ikut ngaji di masjid. Tapi setelah beberapa bulan, karena guru ngajinya ganti aku pun berhenti ngaji di masjid, kamu pun juga ikut berhenti ngaji. Saat aku berusia 12 tahun ibu kembali mendaftarkanku ngaji, tapi kali ini di tetangga sebelah rumahku. Dan kamu juga ikut mendaftar ngaji juga, setiap sore kita ngaji bersama. Bahkan aku masih ingat jika kamu sedang membaja jilid, kamu selalu dimarahi gurunya karena kamu tidak bisa konsentrasi kalau ada aku.



Flowercrown
Dulu saat aku masih berusia 12 tahun, saat kita bermain di depan rumahmu kamu mengajariku membuat mahkota dari bunga-bunga kecil yang tumbuh di halaman rumahmu. Itu adalah pertama kalinya aku mengenal apa itu flowercrown. Kamu membuatkanku sebuah mahkota bunga yang cantik, dengan wajah malu-malu kamu memberikannya untukku.


Sepak Bola
Kamu sangat suka sepak bola, hampir setiap sore kamu bermain bola di lapangan dekat rumahku. Sore itu, aku tidak sengaja lewat saat kamu sedang bermain sepak bola sendirian, tiba-tiba kamu menendang bola itu kearahku, seketika aku menendang kembali bola itu kearahmu. Akhirnya kita bermain bola bersama hingga tanpa terasa adzan maghrib berkumandang dan itu pertanda bahwa kita harus pulang ke rumah masing-masing. Dan sejak saat itu saat kamu tidak ada teman untuk bermain bola, kamu mengajakku untuk bermain bola, meskipun kamu tau kalau aku tak mengerti permainan sepak bola, aku hanya bisa menendang bola saja.

First Kiss
Bisa dibilang ini adalah hal paling gila yang pernah kamu lakukan. Dulu sewaktu aku masih kelas 6 SD, dan bahkan sampai sekarang teman” selalu menjodoh”kan kita, karena mereka selalu melihat kita main bersama. Sampai suatu saat, ketika kita dan mereka sedang bermain bersama, tiba” mereka menghampirimu dan salah satu teman berbisik” kepadamu, aku tak tau apa yang mereka katakan kepadamu. Setelah berbisik”, tiba” mereka menangkapku dan memegang tanganku erat sekali hingga aku tak bisa lari, aku benar” tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sesaat kemudian kamu mendekat ke arahku, dan mereka justru semakin erat memegang tanganku, lebih parahnya lagi mereka berteriak” dan berkata “Ciuuum ciuuummm!”. Aku benar” ketakutan, keringatku bercucuran deras, tapi kamu malah semakin mendekat hingga akhirnya kamu mencium pipi kiriku dan aku hanya bisa berteriak. Mereka tertawa terbahak”, dan kamu tersenyum sangat lebar, dan aku rasanya hanya ingin pingsan.


Mushola Dekat Rumah
Saar aku masih SMP, hampir setiap hari kita sholat maghrib bersama di mushola yang tak jauh dari rumah. Kita berjalan kaki, dan terkadang adikmu juga ikut ke mushola. Bahkan sewaktu pulang dari mushola , sering kali adikmu memintaku untuk menggendongnya, dan kamu hanya tertawa melihat tingkah adikmu.



Layang-layang
Kamu adalah orang pertama yang mengajarkanku bermain layang-layang. Saat itu aku masih SMP. Waktu itu kamu mengajakku bermain di rumahmu yang masih dibangun, kita naik ke balkon. Dan disitulah kamu menerbangkan sebauh layang-layang kecil berwarna putih, layang-layang itu terbang tersapu angin hingga ke atas awan. Ketika layangan itu sudah berada di atas sana, kamu menyerahkan gulungan benang itu kepadaku dan mengajariku mengendalikan layangan itu agar tetap terbang indah diatas sana, agar layangan itu tidak terjatuh ataupun benangnya putus karena tertabrak oelh layangan lainnya. Semenjak saat itu setiap siang hari di balkon rumahmu, kamu selalu mengajakku untuk bermain layangan.



AKU SUKA KAMU!
Saat SMP, kita semakin dekat. Entah kenapa sekitar satu bulan setiap kita bertemu ataupun sedang bermain bersama kamu selalu bilang padaku “Aku suka kamu!”. Bahkan kamu juga pernah berteriak seperti itu di depan teman”, anehnya kamu tidak malu ketika berteriak seperti itu dihadapan mereka.


Malam Takbiran
Saat itu aku kelas 2 SMP. Sore hari sebelum takbiran aku dan sahabatku sedang bermain bersama, lalu tidak sengaja kita bertemu, kamu dan temanmu sedang membuat obor untuk takbiran. Kamu memanggil aku dan sahabatku untuk bergabung, kamu juga membuatkan satu obor untukku. Hingga akhirnya pada malam hari setelah adzan isya berkumandang, aku,sahabaku,kamu dan juga temanmu berkeliling kampung membawa obor api dan mengumandangkan takbir. Malam itu benar” indah.




Mungkin yang telah kutulis diatas hanya sebagian kecil hal-hal yang pernah kita lalui bersama, hal-hal yang membuatku selalu mengenal dan mengingat wajah lugumu. Bagaimana mungkin aku menghapus semua kenangan ini?? Hampir sebagian hidupku ku lalui bersamamu, Sahabat Masa Kecilku !!

Andai saja saat  berusia 16 tahun kita tidak terjebak dengan satu hal yang bernama  “Cinta”, mungkin persahabatan kita akan tetap berlanjut hingga sekarang. Yaah tapi sudahlah, apa dayaku. Jika memang keadaannya begini, apa boleh buat. Mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk kita. Tak ada yang perlu disesali,tak ada yang perlu ditangisi. Biarlah semua kenangan ini tetap menjadi kenangan yang paling manis, meskipun terasa pahit jika tiba” ku mengingatnya.

Kini saatnya untuk kita menjalani hidup masing”, tanpa perlu menoleh kebelakang dan menatap masa depan untuk kehidupan yang lebih baik.

Terimakasih telah mewarnai sebagian besar kisah perjalanan hidupku, terimakasih telah menjadi pangeran masa kecilku,sahabatku, dan juga cinta pertamaku.


YANG TLAH KAU BUAT SUNGGUHLAH INDAH, BUAT DIRIKU SUSAH LUPA :’)

Kamis, 15 Mei 2014

Missing Memories of CHILDHOOD

Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasakan hal-hal aneh. Berawal dari sebuah mimpi pada malam itu, dia datang memasuki alam bawah sadarku, dan mengulang kembali kenangan-kenangan masa kecilku, masa kecilnya, masa kecil kita. Malam itu aku memimpikan masa kecil kita, aku melihat sosokmu beberapa tahun yang lalu, ya aku masih mengenal wajah polos dan lugu itu, senyum manjamu, tawa riang candamu, senyum manismu, dan juga caramu menatapku. Dalam mimpiku, aku tak melihat sosokmu yang sekarang, yang aku lihat hanyalah sosokmu yang dulu, sosok yang sangat aku kenal, sosok pangeran kecilku yang dulu selalu menjagaku. Aku bermimpi tentang kita, masa dimana aku dan kamu belum mengenal apa itu cinta, masa dimana aku dan kamu tak mengenal apa itu benci, masa dimana kita belum mengenal apa itu perasaan, masa yang selalu ingin aku ulang, iya.. masa kecil kita.

Mimpi itu sangaaat indah, terasa begitu nyata hingga aku tak ingin terbangun. Aku tak ingin mimpi itu berlalu begitu saja, sama seperti persahabatan kita yang kini hanya tinggal kenangan.  Sebuah kenangan yang tak mungkin bisa dilupakan begitu saja, bertahun-tahun aku mencoba mengubur kenangan itu, tapii hanya karena sebuah mimpi di malam itu, ingatan-ingatan masa kecil bersamamu kembali lagii. Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan semua kenangan yang pernah ku lalui bersamamu selama bertahun-tahun?? Aku mengenalmu bukan dari hari kemarinnn,, tapi dari belasan tahun yang lalu!! Bagaimana bisa dengan mudahnya aku meluluh lantakan semua ingatan yang telah menyatu bersama diriku.. Bagaimana bisaaaa????


Terlalu banyaak kenangan indah yang kamu berikan.  Terlalu banyak waktu yang telah ku lalui denganmu. Terlalu banyak kejadian yang ku alami bersamamu. 



BERSAMA BINTANG

Senja kini berganti malam
Menutup hari yang lelah
Dimanakah engkau berada
Aku tak tahu dimana

Pernah kita lalui semua
Jerit, tangis, canda, tawa
Kini hanya untaian kata
Hanya itulah yang aku punya

Tidurlah selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

Sesungguhnya aku tak bisa
Jalani waktu tanpamu
Perpisahan bukanlah duka
Meski harus menyisakan luka

Tidurlah selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang
CBersama bintang #DRIVE)
This song for Y O U

Selasa, 13 Mei 2014

Rindu Beracun (K.A.M.U)

Kamu.. kamu adalah bagian dari hidupku.. Kamu adalah satu-satunya nama yang tak pernah henti-hentinya ku panggil, satu-satunya nama yang ada disetiap doaku, satu-satunya nama yang sulit untuk dilupakan begitu saja, satu-satunya nama yang tak pernah lelah untuk kusebut meskipun dalam hati saja.. Kamu adalah penghuni ruang hatiku yang terdalam, suatu tempat dimana tak seorangpun mampu menjamahnya sekalipun itu kamu! karna hanya aku yang tau, hanya aku yang bisa merasakan, hanya aku yang mengerti, hanya aku yang dapat menjamah tempat itu. YA.. hanya aku..

Kamu.. kamu adalah satu dari milyaran manusia yang menjadi alasan untuk aku bertahan menghadapi semua kehidupan yang melelahkan ini.. IYA.. K.A.M.U! bukan dia.. bukan mereka.. tapi K.A.M.U!

Sejujurnya saat ini aku telah berada pada titik yang paling menjenuhkan, sebuah keadaan dimana aku tanpa K.A.M.U! Keadaan yang paling membuat aku tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa, tak mampu berpikir jernih, tak dapat tersenyum riang, tak lagi tertawa lepas..

Ketika Rindu datang, air mata pun menyapa.. Tangis berbisik lirih pada keheningan malam.. Sajak-sajak sendu pun tercipta dengan sendirinya.. puisi tentang kerinduan yang ditujukan untuk seseorang.. Bahkan terkadang jika rindu ini tak dapat terbendung, hanya untuk sekedar bernafas terasa sangat suliit.. sekerika rindu itu terasa seperti racun yang mematikan.. dapat membunuhku secara perlahan..

Sakit memang ketika tiba-tiba aku teringat bahwa kamu tak ada disini, tak lagi temani hari-hari sepiku.. Tapii sudahlah.. hanya akan ada rasa sesal menyakitkan jika ku memikirkan hal itu.. Sekalipun kamu ada disini, mungkin kita tak akan bertegur sapa, bertukar senyuman apalagi berbagi tawa.. Tak mungkin !

Dulu..
Beberapa tahun yang lalu..
Tanpa aku memintapun, senyum itu hadir dengan sendirinya..

Sekarang..
Saat ini..
Hanya ada tatapan dingin, dan raut wajah penuh tanya..

Maaf telah terucap, tapiii bukan berarti waktu sudah memaafkan..
Kita terlalu naif untuk memahami situasi..
Kita terlalu munafik untuk mengakui kesalahan..
Kita terlalu egois untuk menyampaikan perasaan..
Kita terlalu pengecut untuk menatap satu sama lain..


Setidaknya kita tau bahwa kita pernah satu..
A.K.U dan K.A.M.U




Just ME and YOU

Ku mencoba mengerti keadaan ini
Walau sejuta pertanyaan menghujani..

Kau hadir di waktu hidupku yg tak tepat..
Belum waktu ku kenal cinta lebih cepat..

Dan Dunia pun berhasil melerai kita berdua..
Seperti bermimpi indah lalu terjagaa..

Just me and you againts the world..
Ucapan yang jadi pengikat janji cinta kita..
And i’ll spend my life to keep my words..
Ku pastikan suatu saat nanti..
Ku kan hadir di hidupmu lagi
Tuk melanjutkan cinta ini..

Ku belajar terima keadaan ini..
Cinta kita harus pupus saat dia bersemi..

Kan kubuat dunia mengerti
Ini cintaku yg pertama
Kan kubuat dunia mengerti..
Begitu hebatnya cinta pertama..

(This Song For Me and You)

Sabtu, 21 Desember 2013

Wanita Mulia itu adalah IBU :*

Taukah kamu, apa alasan terbesar akan kehadiran kita di dunia ini?? Sosok manakah yang mampu menguatkan kita untuk terus melanjutkan setiap detik nafas yang kita hembuskan di muka bumi ini?? Sosok manakah yang selalu mampu membuat kita untuk bertahan menjalani kehidupan yang keras ini??
Jawaban dari semua pertanyaan diatas adalah Dia. Yaa, Dia..  Seorang wanita paling cantik di bumi ini, seorang wanita yang memiliki sentuhan tangan terhangat, seorang wanita yang penuh dengan kelembutan, seorang wanita yang memiliki sejuta cinta untukku, wanita yang paling ku kagumi, wanita yang paling ku cintai, wanita itu adalah IBU.

Alasan terbesar akan adanya kehadiran kita di dunia ini adalah IBU. Tuhan telah menitipkan kita kepada seorang wanita yang dipercayainya untuk menjaga dan membimbing sesosok ruh yang hidup dalam raga bayi mungil nan suci. Sesosok ruh itu adalah kita, bayi mungil yang terlahir dari rahim seorang wanita yang rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan sang bayi mungil, tanpa peduli akan nyawanya sendiri bahkan wanita itu berani mati jika memang hanya sang bayi yang dapat selamat. Dan ketahuilah, sosok wanita mulia itu adalah IBU kita. Sosok wanita yang rela membiarkan kita berada di rahimnya selama sembilan bulan, wanita itu tak pernah mengeluh akan beban berat janin yang berada di dalam perutnya, ia tetap setia membawa janin itu kemanapun ia pergi tak pernah peduli akan rasa sakit yang dideritanya.

Taukah kamu, IBU rela melakukan apapun asalkan dapat membahagiakanmu. Dia  rela mengorbankan apapun hanya agar mereka bisa melihatmu tersenyum. Dan taukah kamu, betapa terluka hatinya jika melihatmu menangis, betapa hancurnya hatinya jika melihat kita tersakiti. Dia tak pernah ingin melihat kita menderita, karena setiap tetes air mata kita adalah sejuta tetesan air matanya entah itu air mata kebahagiaan ataupun air mata kesedihan. Ketahuilah senyuman kita adalah kebahagiaan untuknya, dan kesedihan kita adalah duka baginya.

IBU adalah sosok yang mampu menguatkan kita untuk terus melanjutkan setiap detik nafas yang kita hembuskan di muka bumi ini. Apakah kamu ingat, ketika kamu sakit siapakah orang pertama yang bersedih? Ya, Dialah orang yang akan sangat bersedih. Ibulah, orang pertama yang menagis saat tau kita sakit. Berbagai upaya akan mereka lakukan demi kesembuhan kita. Dan ketika kita terpuruk, dialah orang pertama yang ikut berduka atas apa yang menimpa kita. Wanita mulia itulah sosok yang membangkitkan kita kembali, mereka bisa menenangkan kita hingga akhirnya kita dapat bertahan untuk tetap hidup dan melanjutkan lembar demi lembar kisah yang telah tuhan takdirkan. Dialah sosok yang menguatkan kita untuk menjalani kehidupan yang berat ini.

Ingatkah pada saat kita masih bayi, menangis adalah hal yang bisa kita lakukan. Apapun yang kita inginkan ketika itu, untuk menyampaikan kepada IBU kita hanya bisa sampaikan dengan tangisan. Karena pada saat itu kita memang belum bisa bicara. Pernahkah IBU marah ketika kita terus menangis?? Tidak pernah !! justru mereka tetap memperhatikan kita, bersabar untuk mencari tau apa yang kita inginkan hingga akhirnya dia bisa tau apa hal yang membuat kita menangis. Ingatkah saat kita balita, IBU dengan sabar mengajarkan huruf demi huruf satu persatu hingga akhirnya dapat terbentuk kata. Pada saat kita belajar untuk bicara,  dia mengajarkan kita untuk dapat mengucap “ayah” dan “ibu”, hingga akhirnya kita dapat mengucapkan kedua kata itu, ketika mulut mungil kita mengucap “ayah” dan “ibu”, taukah kamu betapa bahagianya dia ketika mendengar kata itu. Bayangkan apabila dulu IBU tak mengajarkan kita untuk bicara, apakah saat ini kita masih bisa melanjutkan hidup dengan normal??. Itu adalah hal kecil yang dia ajarkan kepada kita, namun hal itu akan terus berguna untuk hidup kita selamanya. Betapa hebatnya dan betapa mulianya ibu kita, dia ajarkan semua hal yang baik kepada kita, dia ajarkan agama dan segala kebenaran pada kita, agar kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia,berbudi pekerti, dan berperilaku layaknya apa yang tuhan perintahkan. Hingga akhirnya saat kita beranjak dewasa kita bisa menjadi seorang yang sukses.


Melihat anaknya sukses, adalah impian seorang IBU. Taukah kamu doa seorang IBU selalu mengiringi jalan hidup kita, dia selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Doa itu terus terpanjatkan sepanjang hidupnya, bahkan sampai nanti akhir hayatnya. 

Sayangi dan cintailah IBUmu, seperti dia yang tak pernah berhenti mencintaimu dan selalu peduli padamu. Doakanlah selalu IBUmu, seperti dia yang selalu memanjatkan doa dan tak pernah berhenti memohon yang terbaik untukmu. Berbaktilah kepada IBUmu dan ibumu, jadilah anak yang patuh dan taat pada setiap perintah dan larangannya.. Bahagiakanlah dia, dan jangan pernah sekalipun menyakiti perasaannya, karena IBU adalah satu-satunya orang yang rela melakukan apapun demi kebahagiaanmu.

*Teruntuk IBUNDA*
Ibu ananda mencintaimu.. maafkan ananda jika selama ini ananda selalu menyusahkanmu, bahkan terkadang ananda meyakiti perasaanmu dengan segala tutur kata yang kasar.. maaf jika ananda terkadang tak dapat mengerti maumu, ananda tak mendengar perkataanmu, ananda tak menghiraukan nasihatmu, ananda tak melaksanakan perintahmu.. maaf, ananda belum bisa membahagiakanmu.. ananda belum bisa membanggakanmu.. maaf.. 

*Terimaksih IBU*        
Terimakasih atas segala yang engkau berikan untuk ananda selama ini.. terimakasih untuk semuanya.. nyawa ananda pun tak akan sepadan untuk membalas jasa-jasamu.. terimakasih IBU.. ananda selalu menyayangimu :’)

SELAMAT HARI IBU
Sayangi dan Hargai semua wanita di dunia ini :)
Kunjungi http://www.perempuan.com/ untuk mengetahui semua tentang wanita :)


Rabu, 16 Oktober 2013

K A K I

Hendry Wicaksono, seorang pria paruhbaya yang kini hampir menginjak usia 45 tahun. Ia tengah tersenyum menatap Resti Anggita, buah hatinya yang sedang sibuk melepas sepatu di depan pintu rumah. Sepeninggal ibunya lima tahun silam, Hendry hanya tinggal berdua dengan Resti, satu-satunya putri yang amat disayanginya.
“Gimana tadi di Sekolah?? Ada pelajaran yang susah nggak ?” Tanya Hendry seraya mengusap lembut kepala anaknya.
Resti menoleh dan tersenyum menatap wajah sendu ayahnya “Tadi ibu guru bilang kalo minggu depan Resti sudah mulai Ulangan Semester yah.”
“Kalo begitu Resti harus belajar lebih giat mulai sekarang, supaya nanti kamu bisa dapat peringkat pertama.”
Resti mendekat, Di pegangnya kursi roda yang sedang diduduki ayahnya “Iya ayah, Mulai sekarang Resti mau belajar lebih sungguh-sungguh, Resti pengen buat ayah bangga”
Hendry tersenyum lebar, dipeluknya putri semata wayangnya itu “Ayah bahagia sekali bisa memiliki putri seperti Resti.”
“Ayah sudah makan?” Tanya Resti sembari berjalan ke dapur, ia berjalan dengan penuh air mata berlinang di pipi mungilnya.
“Ayah belum makan, Dari tadi ayah menunggu Resti pulang.” Jawab sang ayah dari ruang tamu.
“Yasudah, Resti buatkan tempe goreng yaa.” Jawab Resti sembari mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
Sesaat kemudian, Resti keluar dari dapur lalu berjalan ke ruang tamu sambil membawa sepiring tempe goreng dan sebakul nasi hangat. Sepanjang sore kedua ayah dan anak itu duduk di ruang tamu dan menyantap lahap makanan yang telah dibuat Resti.
***

Resti merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur kumuhnya, disekeliling kamarnya nampak cat dinding yang sudah mulai berwarna kusam dan mengelupas termakan usia. Resti menatap atap kamarnya, dirasakanya hangat cahaya lampu remang-remang yang terpasang di langit-langit kamarnya. Sejenak ia mulai memejamkan mata, serangkaian peristiwa yang telah terjadi di sekolah tadi siang kembali membayanginya. Ia masih teringat akan kata-kata cemoohan teman-temannya yang tak pernah berhenti menghinanya.
 “Ayah macam apa yang kerjanya tiap hari Cuma duduk di kursi roda!!” Ejek Wina, teman sebangku Resti, yang kemudian selang beberapa saat terdengar suara ricuh tawa teman-teman sekelasnya. Mereka semua menertawakan Resti.
“Diam!!!!” Teriak Resti, ia berdiri dan menatap semua teman-teman yang mengejeknya. Perlahan pandangannya mulai kabur, air matanya mulai berlinang.
“Woy diem woy!! Si anak yang ayahnya lumpuh lagi ngomong nih hahahhaaha” Sahut Deni salah satu teman sekelas Resti, ia berdiri sambil mengangkat satu kakinya, dan menirukan cara berjalan ayahnya Resti.  Sesaat kemudian, terdengar tawa ricuh seluruh anak.
Resti hanya bisa terdiam, ia pun segera berlari ke luar kelas. Air matanya sudah tak tertahan lagi, namun saat ia hendak berjalan menuju pintu, tak sengaja ia bertabrakan dengan gurunya.
“Resti , kamu mau kemana?” Tanya guru itu dengan wajah penuh kebingungan menatap Resti yang sedang menangis.
“Sa..saya mau ke toilet bu.” Jawab Resti sambil sesenggukkan
“Kamu kenapa menangis?? Nanti setelah dari toilet, temui Ibu di kantor ya. Ada hal penting yang harus Ibu sampaikan.”
“Iya bu, Saya permisi.”
Resti berjalan menuju toilet, langkahnya gontai. Hatinya sangat terluka, terlebih lagi saat perlahan bayangan wajah ayahnya muncul dipikirannya. Ia tak pernah mengira jika kehidupannya akan berubah drastis seperti ini. Tak pernah terpikirkan oleh Resti jika ia akan kehilangan sosok Ibu yang amat dicintainya. Lima tahun silam, saat malapetaka itu terjadi, Ibunya pergi meninggalkan Resti dan Ayahnya.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam, sini masuk Res.” Jawab Guru Resti
Resti berjalan menuju kursi, lalu ia duduk berhadapaan dengan gurunya. “Ada apa bu? Kenapa Ibu memanggil saya?” Tanya Resti dengan wajah polos.
“Begini Res, sebentar lagi kan Ujian Semester. Semua siswa diwajibkan untuk melunasi SPP. Kamu tau kan kalau SPP mu sudah nunggak dua bulan” Jawab Ibu guru dengan nada penuh hati-hati, ia tak tega mengatakan hal ini kepada Resti.
“Iya, saya tau bu. InsyaAllah saya akan segera melunasinya, mohon beri waktu tambahan agar saya bisa mencari uang untuk melunasinya.”
“Baiklah Ibu mengerti, Seminggu lagi harus sudah lunas ya. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas.”
“Baik bu, Saya permisi dulu.”
***

““ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR.. ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR..ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH.. ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH”. Suara adzan Maghrib membuyarkan lamunan Resti. Tak terasa sudah hampir setengah jam ia melamun sambil menatap langit-langit atap kamarnya.
“Resti, ayo shalat maghrib dulu!” Panggil ayahnya dari luar kamar
“Iya ayah, sebentar” Resti segera bangun, lalu mengambil air wudhu.
Tak lama kemudian kedua anak dan ayah itu melaksanakan shalat maghrib berjama’ah.

***
Keesokan harinya, saat Resti pulang dari sekolah, di depan pintu rumahnya ia melihat sepasang sepatu kulit mengkilap berwarna coklat. Resti merasa sangat familiar dengan sepatu kulit itu. Setelah melepas sepatunya, Resti pun berjalan menuju ruang tamu, ia ingin memastikan siapa tamu yang sedang berada dirumahnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja ia mendengar perbincangan ayahnya dengan sosok pria yang wajahnya sangat ia kenali.
“Kalau begitu, surat ini aku bawa dulu. Nanti kalau kau sudah punya uang, silahkan tebus kembali surat tanah ini.” Kata Tomi, Sosok Pria Paruhbaya yang sudah lama menjadi teman Hendry sejak mereka SMP.
“Iya, aku mengerti. Terimakasih banyak ya. Maaf sudah merepotkanmu Tom.”
“Tak masalah Hen, Toh kita sudah lama berteman. Apa salahnya jika aku membantumu. Yasudah kalau begitu aku pergi dulu” Jawab Tomi yang kemudian berdiri dan hendak berjabat tangan dengan kawan lamanya itu.
Mendengar perbincangan itu, Resti sangat syok. Ia kembali memakai sepatunya dan berlari meninggalkan rumah gubuknya itu. Resti berlari sangat kencang, air matanya lagi-lagi tertumpah tak terkendali membasahi pipinya. Langkah kakinya terus berjalan menelusuri trotoan jalan raya. Ia benar-benar tak sanggup membendung luka hati yang saat ini tengah dideritanya. Dalam hati ia berkata, “Ya Allah.. Kenapa harus ayah yang kau buat menderita.. Kenapa harus dia?? Resti tak pernah menyangka jika ayah akan kehilangan kakinya. Dulu ayah sangat gagah, dan Ibu sangat mencintai Ayah. Tapi kenapa, hanya karena Ayah lumpuh Ibu pergi meninggalkan ayah.. Jika saja peristiwa itu tak pernah terjadi!! Mungkin saat ini Resti punya keluarga yang utuh. Lalu sekarang Resti harus bagaimana ya Allah??”
Di pinggir jalan raya, Resti duduk tersungkur. Ia kembali mengingat peristiwa lima tahun yang lalu. Sebuah peristiwa malapetaka yang kini membuat Ayah yang amat dicintainya kehilangan kakinya, Peristiwa yang membuatnya ditinggalkan satu-satunya sosok Ibu yang sangat ia Sayangi. Lima tahun yang lalu tepat saat Resti  merayakan ulang tahun perkawinan Ayah dan Ibunya, mendadak atasan ayahnya menelpon dan memberitahukan bahwa ayahnya harus segera datang ke lokasi kebakaran. Ditengah-tengah hari bahagia itu, ayahnya pamit untuk pergi bekerja. Sudah hampir sepuluh tahun Ayah Resti bekerja sebagai Petugas Pemadam Kebakaran. Namun sesaat setelah kepergian ayahnya, Ibu Resti menerima telepon dari rumah sakit. Pihak Rumah Sakit mengabarkan bahwa, Ayah Resti berada di ruang ICU dan keadaannya kritis. Ternyata kecelakaan itu terjadi, ketika ayahnya sedang menyelamatkan anak kecil yang terjebak kebakaran di sebuah hotel, tiba-tiba sebuah kayu terjatuh dari atap kamar hotel dan kayu itu menimpa kaki ayahnya. Sang ayah memang dapat terselamatkan, namun sayang karna tertimpa kayu maka salah satu kakinya harus diamputansi. Akhirnya Hendry kehilangan kaki kirinya. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Istri Hendry yang juga merupakan Ibunya Resti pergi dari rumah. Ibunya tak tahan dengan ejekan para tetangga yang selalu mengolok-olok kaki ayahnya Resti. Semenjak saat itu Resti dan ayahnya hanya tinggal berdua disebuah rumah gubuk kecil peninggalan kakek Resti di Desanya. Rumah mewah yang dulu mereka tinggali sudah terjual, dan uangnya untuk pengobatan ayah Resti.
 “ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR.. ALLAAHU AKBAR,ALLAAHU AKBAR..ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH.. ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH..ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH” Lagi lagi suara adzan maghrib membuyarkan lamunan Resti. Ia langsung berdiri dan segera pulang ke rumah, ia takut jika ayahnya menghawatirkannya.
***

Ketika hampir sampai, ia terkejut karena melihat ayahnya yang duduk di kursi roda sudah berada di depan pintu
“Resti, kamu dari mana saja nak? Maghrib begini baru pulang?” Tanya ayahnya, dengan wajah penuh khawatir.
Resti menunduk “Resti habis mengerjakan tugas kelompok di rumah teman yah.”
“Yasudah ayo masuk, di luar dingin nanti kamu bisa masuk angin. Ayah buatkan teh hangat ya untuk Resti.” Kata Hendry sambil mengusap lembut kepala anaknya.
“Tidak usah yah, Resti sedang tidak haus. Ayah sudah makan?”
Tersenyum sejenak “Belum, ayah nunggu Resti.  Ayo kita makan bersama”
Mendengar jawaban ayahnya, Resti sangat sedih. Air matanya hampir tumpah, namun ia berhasil untuk menahannya.
***

Saat mereka makan malam, Ayahnya menyodorkan amplop yang berisi uang ratusan ribu.
“Ini uang SPP mu yang sudah nunggak dua bulan, besok langsung dibayarkan ya”
Resti sangat terkejut mendengar perkataan ayahnya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya , Bagaimana bisa ayahnya tau kalau SPPnya nunggak dua bulan.
Dengan penuh hati-hati Resti menjawab “Ini uang dari om Tomi ya? Aa..Ayah menjaminkan Rumah kita supaya bisa melunasi SPP Resti ya?”
Hendri terdiam sesaat. Ia tak tau harus berkata apa pada putrinya.
“Iyaa kan yah?? Jawab Resti yah? Jangan berbohong pada Resti. Resti tau, tadi sore saat Resti pulang sekolah, tak sengaja Resti mendengar perbincangan ayah dengan om Tomi” Kata Resti terbata-bata.
Hendry mendekat dan langsung memeluk anaknya “Maafkan Ayah Res, Hanya ini satu-satunya yang bisa ayah lakukan agar kamu bisa tetap sekolah”
Resti menagis kencang, ia tersungkur tak berdaya di pelukan ayahnya.
***

Seminggu telah berlalu, Resti melewati Ujian Semesternya dengan baik. Berkat surat tanah yang digadaikan ayahnya, ia diijinkan untuk mengikuti Ujian. Hingga kemudian,  tiba saatnya hari yang sangat ditunggu-tunggu tiba.
“Peringkat pertama tahun ini diraih oleh Resti Anggita, kelas X 1 IPA”
Resti Terkejut, mendengar Kepala Sekolah menyebutkan namanya. Ia segera berjalan menuju keatas panggung untuk memberi kata sambutan.
“Assalamulaikum. Pertama saya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Allah SWT. Saya benar-benar tidak pernah menyangka kalau saya bisa peringkat pertama. Saya sangat berterimakasih kepada Ayah saya, yang selama ini tak pernah berhenti mendukung dan bahkan banyak berkorban agar saya tetap bisa bersekolah. Terimakasih ayah, Resti sangat mencintai ayah, Resti tak peduli meskipun orang-orang selalu berkata bahwa ayah lumpuh. Bagi Resti, ayah itu seorang pahlawan. Ayah rela mengorbankan kakinya demi menyelamatkan seorang anak kecil yang terjebak di hotel lima tahun yang lalu. Resti bangga samaAyah.
Mendengar ucapan anaknya diatas panggung, Hendry tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia melihat putrinya berdiri anggun diatas panggung sana.
Tak lama kemudian semua teman-teman Resti bertepuk tangan, mereka bangga memiliki teman seperti Resti. Mereka juga menyesal karena selama ini telah menghina Resti dan Ayahnya.
***


Setibanya di Rumah.
“Tok..Tok.Tok..” Suara pintu diketuk.
Resti berjalan menuju sumber suara “Biar Resti yang buka yah”
Betapa terkejutnya ketika Resti melihat sosok Lelaki Paruhbaya yang berdiri di depan pintu. Lelaki itu adalah Tomi, namun kali ini Tomi datang dengan seorang anak perempuan yang memakai seragam putih abu-abu. Anak perempuan itu sangat familiar bagi Resti. Sosok perempuan itu adalah Wina, teman sebangku Resti yang sering mengolok-olok ayahnya.
“Wi..Winaa..”
Wina pun tersenyum lebar “Selamat ya Resti, kamu memang pantas mendapat peringkat pertama. Emm dan aku juga minta maaf ya, karena selama ini aku selalu menyakiti hatimu.”
Resti tersenyum “Iya  gak papa Win, Aku tau kamu sebenernya baik kok. Makasih yaa”
Dari ruang tamu terdengar suara Hendry “Siapa Res yang datang?”
Belum sempat Resti menjawab, Tomi dan Wina langsung masuk menuju ruang tamu.
Hendry ikut terkejut melihat kedatangan Tomi dan anaknya, ia berpikir bahwa Tomi datang untuk menagih hutang.
”Tomi, ada apa kau datang kemari? Ayo silahkan duduk. Res buatkan minum buat Om Tomi dan Wina” Kata Hendry tersenyum lebar menatap Tomi dan Wina
“Iya yah” Jawab Resti singkat, ia pun berjalan ke dapur.
“Begini, kedatanganku kemari untuk memberikan ini kepadamu” Ucap Tomi memulai perbincangan, ia menyerahkan sebuah map coklat yang didalamnya berisi surat tanah milik Hendry.
Kaget dan Terkejut “Ini untukku? Bukankah aku belum melunasi hutang-hutangku?”
“Kau salah Hen, Akulah yang belum melunasi hutang-hutangku” Jawab Tomi sambil tersenyum
Hendry bingung “Hutang? Hutang apa Tom? Seingatku, kau tak pernah satu kalipun berhutang padaku.”
“Aku berhutang nyawa padamu Hen”
“Nyawa?” Jawab Hendry dengan mimik muka semakin bingung
“Iya nyawa. Kau tak ingat, lima tahun yang lalu kau telah menyelamatkan Wina dari peristiwa kebakaran di Hotel itu. Kalau bukan karena kau, aku pasti sudah kehilangan Putriku.”
“Om Hendry, Wina sangat berterimakasih. Berkat pengorbanan Om, Wina masih bisa hidup sampai sekarang” Sahut Wina sambil menatap Hendry, ia tersenyum tulus.
“Aku melakukan itu karena itu memang pekerjaanku, sudah kewajiban seorang petugas pemadam kebakaran untuk menyelamatkan mereka yang membutuhkan pertolongan. Jadi jangan jadikan ini sebagai hutang yang harus dilunasi. Aku ikhlas menyelamatkan anakmu.”
“Kalau begitu, ijinkan aku membiayai sekolah Resti hingga nantinya ia lulus. Dan tolong terima surat tanah ini. Ini milikmu Hen”
“Maaf, aku tidak bisa menerima kebaikanmu Tom. Aku sudah terlalu sering menyusahkanmu.”
“Jangan begitu Hen, pikirkan masa depan Resti. Aku tidak pernah merasa kau menyusahkanku. Justru aku senang jika kau meminta pertolonganku, itu berarti kau menganggapku teman.”
“Iya Om, Mohon diterima bantuan dari ayah. Tidak baik menolak rezeki. Resti juga pasti akan senang menerimanya. Ucap Wina dengan wajah polosnya
“Baiklah, aku akan menerimanya. Terimakasih banyak Tom, aku dan Resti tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.”
Beberapa saat kemudian Resti datang membawa minuman
“Ini minumnya. Silahkan diminum, Om,Wina” Kata Resti sembari menyajikan minuman di meja
Tomi mendekat ke Resti, ia menyerahkan amplop yang berisi uang “Res, tolong kamu terima ini untuk perawatan kaki ayahmu.”
Mendengar hal itu Resti langsung mengeluarkan air mata, namun kali ini bukan air mata kesedihan, ia benar-benar bahagia. Resti langsung memeluk ayahnya, yang duduk terpaku di kursi roda.
“Ayah, tolong terima bantuan dari Om Tomi. Resti ingin melihat ayah bisa berjalan lagi.”
Hendry memeluk Resti, ia tersenyum manatap Tomi dan Wina “Terimakasih Tom, aku tak tau harus berkata apa lagi.”
Resti bersujud “Ya Allah, terimakasih. Engkau telah menjawab doaku”

***